4. Tetapkan Batasan yang Jelas
Remaja memang ingin merasa mandiri, tetapi mereka tetap membutuhkan arahan. Batasan yang konsisten membantu anak memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Misalnya, aturan mengenai jam malam, ke mana mereka pergi, dan dengan siapa mereka beraktivitas. Konsistensi sangat penting agar anak tahu bahwa orang tua bisa diandalkan sebagai kompas moral. Batasan yang jelas juga memberikan rasa aman, meski kadang mereka mencoba melanggarnya.
5. Fokus pada Hal Positif dan Berikan Pujian
Di tengah konflik kecil sehari-hari, jangan lupa untuk melihat sisi positif anak. Pujilah usaha mereka, bukan hanya hasil akhirnya.
Baca Juga:8 Inspirasi Model Rumah Kecil 1 Kamar dari Batako, Cocok untuk Pasangan MudaLong Distance Parenting, 5 Cara Menjaga Kedekatan dengan Anak Meski Terpisah Jarak
Pengakuan tulus dari orang tua dapat meningkatkan harga diri dan membuat remaja merasa dihargai. Ketika anak merasa upayanya diperhatikan, mereka lebih termotivasi untuk berperilaku positif.
Validasi sederhana seperti “Aku bangga padamu” bisa menjadi energi besar bagi perkembangan mereka.
Mengasuh remaja perempuan memang penuh tantangan, tetapi juga penuh peluang untuk membangun ikatan yang lebih kuat.
Dengan tidak menganggap perilaku sebagai serangan personal, menjaga komunikasi terbuka, menunjukkan empati, menetapkan batasan, serta memberikan pujian, orang tua dapat menciptakan lingkungan yang sehat dan suportif.
Dukungan orang tua yang konsisten akan membantu remaja melewati fase ini dengan lebih percaya diri, sehingga mereka siap tumbuh menjadi pribadi yang dewasa, mandiri, dan tangguh.