CIREBON, RAKCER.ID – Instagram bukan lagi sekadar platform berbagi momen, tetapi juga menjadi panggung di mana estetika visual dinilai dan dielu-elukan. Hal ini melahirkan sebuah fenomena baru dalam dunia fotografi, yaitu fenomena fotografi “instagenic”.
Istilah ini merujuk pada foto-foto yang dibuat secara khusus agar terlihat menarik dan estetik di Instagram, terkadang juga mengorbankan esensi atau subjek utamanya.
Apa itu Fotografi Instagenic?
Secara harfiah, “instagenic” adalah gabungan dari kata “Instagram” dan “photogenic”. Namun maknanya jauh lebih dalam, di mana fotografi instagenic bukanlah sekadar foto yang bagus, namun foto yang dirancang untuk memenuhi standar estetika tertentu yang populer di Instagram.
Baca Juga:Peran Media Sosial dalam Aksi Demonstrasi: Mengubah Lanskap Aksi MassaPengaruh Media Sosial dalam Industri Hiburan: Revolusi dan Transformasi
Standar ini mencakup penggunaan warna-warna pastel atau monokrom, komposisi minimalis, pencahayaan yang dramatis, dan sudut pandang yang unik. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian, mendapatkan banyak likes, dan memancing komentar positif.
Fenomena ini tidak hanya terbatas pada potret diri atau foto liburan, tapi juga merambah ke berbagai subjek lain, seperti interior, makanan, dan subjek lainnya.
Sebuah piring makanan di café bisa difoto dari sudut pandang yang tidak biasa agar terlihat menarik, atau bangunan bersejarah bisa diabaikan demi mencari sudut lain yang lebih “instagramable”
Poin krusial dari fotografi instagenic adalah ketika estetika menjadi tujuan utama, bukan lagi alat bantu. Dalam fotografi tradisional, estetika digunakan untuk memperkuat pesan atau cerita yang ingin disampaikan oleh fotografer. Subjek menjadi bintangnya, dan estetika bertindak sebagai sorotan yang menyorotinya.
Ketika Estetika Mengalahkan Subjek
Poin krusial dari fotografi instagenic adalah ketika estetika bukan lagi menjadi alat bantu, tetapi telah menjadi tujuan utama.
Dalam fotografi tradisional, estetika digunakan untuk memperkuat pesan atau cerita yang ingin disampaikan oleh fotografer. Di mana subjek sebagai bintang utama, dan estetika menjadi alat yang menyorotinya.
Namun, dalam fotografi instagenic, peran ini seringkali terbalik. Subjek hanya menjadi alasan untuk menciptakan sebuah komposisi visual yang menarik.
Baca Juga:Gig Economy di Era Media Sosial: Peluang dan Tantangan BaruAncaman Deepfake di Media Sosial: Bahaya dan Cara Mengatasi
Contohnya, sebuah café mungkin sengaja didekorasi dengan dinding berwarna cerah dan tanaman hias unik, bukan untuk menciptakan suasana nyaman, melainkan agar pengunjung bisa berfoto di sana.