Makanan yang disajikan mungkin memiliki rasa yang biasa saja, namun dihias sedemikian rupa untuk menarik minat pengunjung untuk memesan demi nilai estetikanya ketika difoto.
Dampak dan Kritik Terhadap Fotografi Instagenic
Fenomena ini memicu berbagai perdebatan di kalangan fotografer dan pengamat budaya. Di satu sisi, fotografi instagenic dianggap sebagai bentuk ekspresi artistik yang demokratis.
Siapapun, dengan smartphone di tangan, bisa menjadi “fotografer” dan menciptakan karya yang diapresiasi oleh ribuan orang. Hal ini juga mendorong banyak bisnis dan tempat wisata untuk lebih peduli terhadap desain visual, yang pada akhirnya dapat mempercantik ruang publik.
Baca Juga:Peran Media Sosial dalam Aksi Demonstrasi: Mengubah Lanskap Aksi MassaPengaruh Media Sosial dalam Industri Hiburan: Revolusi dan Transformasi
Namun, di sisi lain, kritik terhadap fenomena ini juga tak kalah tajam. Salah satu kekhawatiran terbesar adalah bahwa fotografi instagenic bisa mengaburkan substansi dan realitas.
Ketika semua foto di media sosial terlihat sempurna, kita mungkin lupa bahwa kehidupan nyata jauh darikata sempurna.
Hal ini bisa menciptakan tekanan sosial untuk terus terlihat bahagia dan memiliki kehidupan yang “sempurna”, yang pada akhirnya bisa berdampak negatif pada kesehatan mental.
Selain itu, fotografi instagenic juga dituding telah menurunkan nilai otentitas. Foto-foto yang diproduksi secara massal dengan gaya yang seragam seringkali kehilangan keunikan dan cerita personal.
Fotografi, yang seharusnya menjadi alat untukmendokumentasikan kebenaran, bisa jadi malah menjadi alat untuk menciptakan iluasi.
Menemukan Keseimbangan
Pertanyaannya bukan apakah fotografi instagenic itu baik atau buruk. Sebagaimana teknologi lainnya, dampak instagenic bergantung pada bagaimana kita menggunakannya. Daripada menolaknya mentah-mentah, mungkin kita bisa mencoba menemukan keseimbangan.
Kita bisa terus mengapresiasi keindahan visual dari foto instagenic, namun jangan sampai melupakan substansi dan cerita di baliknya.
Baca Juga:Gig Economy di Era Media Sosial: Peluang dan Tantangan BaruAncaman Deepfake di Media Sosial: Bahaya dan Cara Mengatasi
Gunakan estetika untuk memperkuat pesan yang ingin kita sampaikan, bukan untuk menyembunyikannya. Dengan cara ini, kita bisa menikmati keindahan visual dari fotografi instagenic tanpa kehilangan esensi dari subjek yang ingin kita abadikan.(*)