Empati Sehat vs Empati Melelahkan, Cara Tahu Batas Peduli Tanpa Bikin Mental Tersiksa

Empati Sehat vs Empati Melelahkan, Cara Tahu Batas Peduli Tanpa Bikin Mental Tersiksa
Batas peduli untuk empati berjarak. Foto: Pinterest/rakcer.id
0 Komentar

CIREBON, RAKCER.ID – Empati itu penting. Ia membuat kita peduli, peka terhadap orang lain, dan bisa membantu mereka yang membutuhkan.

Tapi, terlalu larut dalam emosi orang lain justru bisa bikin stres, cemas, atau bahkan burnout.

Fenomena ini disebut empati melelahkan, sementara empati yang seimbang dikenal sebagai empati sehat.

Baca Juga:Kenapa Kita Suka Baca Berita Negatif? Rahasia Otak di Balik Fenomena Doomscrolling5 Cara Ampuh Lepas dari Doomscrolling, Biar Hidup Lebih Tenang dan Tidur Nyenyak

Kenali perbedaannya agar kamu tetap peduli tanpa harus mengorbankan kesehatan mental sendiri.

Apa Itu Empati Sehat dan Empati Melelahkan?

Empati Sehat adalah peduli terhadap orang lain, tapi tetap menjaga keseimbangan emosional diri sendiri. Kita bisa membantu tanpa merasa terbebani secara psikologis.

Sedangkan empati melelahkan (Compassion Fatigue) terlalu terbawa emosi orang lain, sehingga perasaan kita ikut terguncang, stres meningkat, dan motivasi menurun.

Tanda-Tanda Empati Melelahkan

Berikut tanda-tanda empati melelahkan:

1. Stres terus-menerus: Pikiran selalu terfokus pada masalah orang lain.

2. Kecemasan berlebihan: Sulit tenang karena “menyerap” emosi orang lain.

3. Burnout emosional: Kehilangan motivasi peduli, merasa apatis.

4. Gangguan tidur: Sulit tidur karena terus memikirkan penderitaan orang lain.

5. Kesulitan fokus: Energi emosional terkuras, produktivitas menurun.

Tanda Empati Sehat

Bisa peduli tanpa terbebani.

Masih punya energi untuk diri sendiri.

Bisa membantu orang lain dengan cara yang realistis.

Tetap menjaga kesehatan mental dan fisik.

Cara Menjaga Batas Empati

Tetapkan batas emosional: Pilih informasi dan interaksi yang bisa ditangani. Jangan terlalu memaksakan diri peduli pada semua hal.

Latih mindfulness dan meditasi: Hadir sepenuhnya di momen sekarang tanpa terbawa emosi negatif.

Journaling: Tuliskan pengalaman dan perasaanmu untuk memproses emosi.

Digital detox: Batasi paparan berita negatif atau drama online agar tidak menumpuk stres.

Baca Juga:5 Instrumen Investasi untuk Merdeka Finansial di Masa TuaBahaya! Efek Doomscrolling pada Kesehatan Mental, Dari Cemas Berlebih sampai Overthinking Kronis

Tindakan nyata yang realistis: Fokus pada hal-hal yang bisa kamu bantu, bukan semua masalah yang muncul di timeline.

Mengaitkan dengan Doomscrolling

Doomscrolling, kebiasaan terus membaca berita negatif di media sosial, bisa memperparah empati melelahkan.

Kita jadi terlalu terbawa berita sedih, konflik sosial, atau drama online, hingga energi emosional habis.

Dengan empati berjarak, kita tetap peduli tapi tidak tersiksa: scroll dengan sadar, pilih konten bermanfaat, dan jangan terlalu lama menatap berita negatif.

0 Komentar