CIREBON, RAKCER.ID – Empati itu penting ia memungkinkan kita merasakan apa yang dialami orang lain dan membangun hubungan yang hangat.
Tapi, terlalu larut dalam emosi orang lain bisa bikin stres dan burnout. Di sinilah konsep empati berjarak muncul peduli tetap ada, tapi hati dan pikiran tidak ikut terbakar drama.
Ternyata, ada alasan ilmiah dan psikologis mengapa beberapa orang bisa melakukan ini, sementara yang lain gampang terbawa emosi. Yuk, kita kupas lebih dalam.
Baca Juga:Kenapa Kita Suka Baca Berita Negatif? Rahasia Otak di Balik Fenomena Doomscrolling5 Cara Ampuh Lepas dari Doomscrolling, Biar Hidup Lebih Tenang dan Tidur Nyenyak
Bagaimana Otak Memproses Emosi Orang Lain
Empati melibatkan beberapa area otak:
1. Anterior insula dan cingulate cortex: Mengatur respons emosional terhadap penderitaan orang lain.
2. Prefrontal cortex (korteks prefrontal): Membantu mengatur emosi, membuat keputusan, dan menahan dorongan ikut terbawa perasaan.
3. Amygdala: Menyala saat kita melihat sesuatu yang mengancam atau sedih; di empati berjarak, aktivitas amygdala bisa lebih terkendali.
Dengan empati berjarak, otak mampu:
1. Mengenali emosi orang lain tanpa “menyerap” semua tekanan emosional.
2. Memproses informasi secara rasional, bukan hanya reaktif emosional.
3. Memilih respons yang adaptif, misalnya membantu secara efektif atau memberi dukungan tanpa kelelahan.
4. Hubungan Empati Berjarak dengan Kesehatan Mental Jangka Panjang
Empati berjarak memiliki dampak positif pada kesehatan mental:
1. Mengurangi stres kronis: Energi emosional tidak habis untuk hal-hal di luar kendali kita.
Baca Juga:5 Instrumen Investasi untuk Merdeka Finansial di Masa TuaBahaya! Efek Doomscrolling pada Kesehatan Mental, Dari Cemas Berlebih sampai Overthinking Kronis
2. Menjaga keseimbangan emosi: Membantu tetap stabil meski terpapar penderitaan orang lain.
3. Mencegah burnout dan depresi ringan: Tidak semua berita buruk atau masalah orang lain ikut membebani pikiran.
4. Meningkatkan kemampuan coping: Otak belajar memilih kapan harus peduli dan kapan harus memberi jarak.
Neurobiologi dan Stress Coping Mechanism
Empati berjarak terkait erat dengan mekanisme coping otak:
1. Regulasi emosional: Korteks prefrontal membantu menenangkan amygdala, sehingga reaksi emosional tidak berlebihan.
2. Resiliensi psikologis: Paparan stres yang terkendali justru melatih otak untuk tetap tenang di situasi menegangkan.
3. Sistem reward: Memberi dukungan atau membantu orang lain tetap memberi kepuasan emosional tanpa merusak kesehatan mental.
Intinya, empati berjarak bukan mengurangi kepedulian, tapi memaksimalkan efektivitas peduli dengan cara yang sehat untuk otak dan tubuh.