CIREBON, RAKCER.ID – Pernah nggak merasa bingung saat anak marah, sedih, atau takut, lalu spontan buru-buru menenangkan atau memberi nasihat?
Padahal, yang anak butuhkan pertama kali bukan solusi, melainkan didengarkan dan dimengerti.
Inilah yang disebut validasi emosi, teknik sederhana tapi powerful dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Baca Juga:Kenapa Jeruk Nipis Bisa Bikin Bayi Jalan? Ini Penjelasan Ahli Perkembangan AnakKenapa Jeruk Nipis Bisa Bikin Bayi Jalan? Ini Penjelasan Ahli Perkembangan Anak
Yuk, kita bahas kenapa ini penting dan bagaimana cara melakukannya di rumah.
Apa Itu Validasi Emosi?
Validasi emosi adalah sikap menerima dan mengakui perasaan anak tanpa menghakimi.
Artinya, orang tua mengakui bahwa perasaan mereka nyata dan wajar, meski tidak selalu setuju dengan sikap atau tindakannya.
Contoh sederhananya ketika anak takut gelap, jangan bilang “ah, itu nggak usah ditakutin”, tapi akui dulu perasaannya, misalnya: “wajar kok kalau kamu merasa takut di tempat gelap.”
Kenapa Validasi Emosi Penting?
Anak yang emosinya divalidasi biasanya tumbuh dengan:
1. Lebih mudah mengenali dan mengelola emosinya
2. Merasa aman dan percaya pada orang tuanya
3. Tidak terbiasa memendam perasaan
4. Lebih empatik dan komunikatif di kemudian hari
Tanda Orang Tua Belum Memvalidasi Emosi Anak
Kalimat-kalimat ini sering terdengar sepele, tapi bisa bikin anak merasa diabaikan:
“Udah, jangan lebay.”
“Masa gitu aja nangis?”
“Ah, nggak usah sedih begitu.”
Kalau sering mendengar ini, anak bisa tumbuh minder atau bahkan menolak perasaannya sendiri.
Baca Juga:Mau Anak Sukses dan Percaya Diri? Hentikan 4 Kalimat Berbahaya Ini10 Inspirasi Desain Rumah Minimalis 4×6 Meter yang Estetik dan Nyaman
Cara Validasi Emosi Anak yang Bisa Dilakukan Orang Tua
Tenang, memvalidasi emosi anak nggak ribet, kok. Coba lakukan beberapa langkah ini:
1. Dengarkan Tanpa Menyela
Biarkan anak mengungkapkan perasaan dulu sebelum orang tua bicara.
2. Pahami dari Sudut Pandang Anak
Mainan rusak bagi orang dewasa mungkin hal kecil, tapi bagi anak bisa jadi masalah besar.
3. Berikan Kata-Kata yang Mengakui Emosi
Contoh kalimat sederhanya seperti “Kamu kelihatan marah banget ya,” atau “Ayah/Ibu ngerti kamu lagi kecewa.”
4. Gunakan Kontak Mata dan Sentuhan Lembut
Tatapan hangat atau pelukan kadang lebih menenangkan daripada kata-kata.
5. Tunda Nasihat atau Solusi