Anak Muda di JOGJA Lebih Memilih Menunda Pernikahan, Berikut Alasannya

Anak Muda di JOGJA Lebih Memilih Menunda Pernikahan, Berikut Alasannya
Anak Muda di JOGJA Lebih Memilih Menunda Pernikahan, Berikut Alasannya.FOTO: PINTEREST/RAKCER.ID
0 Komentar

YOGYAKARTA, RAKCER.ID – Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan tren penurunan angka pernikahan selama tiga tahun terakhir, dengan pernikahan yang tercatat semakin berkurang dari tahun ke tahun mulai 2020.

Data dari Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) DIY memperlihatkan angka ini turun dari 22.746 pada tahun 2020 menjadi 20.249 di tahun 2023.

Berbicara mengenai fenomena ini, Jatu Anggraeni, psikolog sekaligus dosen di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), menekankan bahwa ada beberapa faktor yang membuat generasi saat ini lebih memilih untuk menunda pernikahan.

Baca Juga:Timnas Indonesia Ukir Prestasi di Panggung Dunia dengan Kenaikan Ranking FIFA7 Tempat Wisata Magetan Terbaru 2024 Memikat Hati Pengunjung

“Generasi Z kini lebih mementingkan pengembangan diri dan pencapaian pribadi daripada mengejar status pernikahan,” jelas Jatu.

Menurutnya, pengaruh globalisasi telah mengubah paradigma banyak anak muda yang kini lebih fokus pada pendidikan dan karier daripada membina rumah tangga di usia muda.

Selain itu, Jatu juga mengutarakan bahwa tingginya persentase perceraian menjadi salah satu alasan mengapa anak muda enggan untuk buru-buru menikah.

Mereka lebih cenderung untuk mencari kestabilan emosional dan tanggung jawab sosial sebelum memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan.

“Penting bagi generasi muda saat ini untuk mencapai kemandirian emosional, memilih pasangan yang tepat, dan menyelesaikan tugas-tugas kehidupan sebelum mereka memutuskan untuk menikah,” tambah Jatu menyarankan bahwa pernikahan idealnya terjadi pada usia dewasa awal, antara 20 hingga 40 tahun.

Ini menandakan pergeseran pada prioritas individu di Yogyakarta, di mana kebahagiaan dan aktualisasi diri memainkan peran lebih penting ketimbang mengejar timeline sosial yang kaku terkait pernikahan.

Fokus pada pendidikan dan karier dilihat sebagai langkah yang lebih menguntungkan dalam jangka panjang.

 

0 Komentar