Banjir di Demak pada Tahun 2024 menjadi yang Terparah dalam Sejarah dan Berpotensi Munculkan Selat Muria Lagi!

Masjid di Demak pada Tahun 2024 menjadi yang Terparah dalam Sejarah dan Berpotensi Munculkan Selat Muria Lagi!
Kondisi banjir menggenangi area serambi Kompleks Makam Sunan Kalijaga, Kadilangu, Demak. selasa(19/3). FOTO: twitter.com/Jateng_twit
0 Komentar

DEMAK, RAKCER.ID – Meskipun air bah sudah berangsur surut, dampak banjir Demak 2024 masih dirasakan oleh penduduk di kawasan pantura Jawa Tengah. 

Baru-baru ini, jalur lalu lintas antara Kabupaten Kudus dan Kabupaten Demak lumpuh total karena tanggul Sungai Wulan jebol, menyebabkan wilayah Kecamatan Karanganyar Demak terendam banjir dengan ketinggian mencapai 1,5 meter.

Meskipun tanggul Sungai Wulan telah diperbaiki oleh Kementerian PUPR sebelumnya, namun tidak mampu menahan air sungai yang meluap akibat hujan lebat selama seminggu terakhir.

Banjir di Demak di tahun 2024 ini mengganggu aktivitas penduduk.

Baca Juga:Pemenang Pilpres 2024 Jatoh ke Tangan Prabowo Subianto Setelah Gagal 4 Kali PencalonanSaatnya Memberikan Hasil untuk Pelatih India Igor Stimac di Kualifikasi Piala Dunia FIFA Afghanistan vs India

Banjir Terparah di Demak

Namun ternyata banjir ini menjadi yang terparah di sepanjang sejarah.

Menurut Agus Nugroho yang menjabat sebagai Kepala BPBD Kabupaten Demak, banjir yang terjadi di Demak pada tahun 2024 merupakan yang terburuk sejak tahun 1992.

“Kondisi ini merupakan yang terburuk yang pernah saya alami. Meskipun pada tahun 1992 saya juga mengalami pengungsian, namun tidak seburuk ini. Situasinya belum pernah terjadi di Indonesia sebelumnya, bahkan kami telah menetapkan status tanggap darurat sebanyak tiga kali,” katanya.

Agus menyatakan bahwa kejadian jebolnya tujuh tanggul di Jawa Tengah juga berkontribusi pada memperparah banjir di Demak kali ini.

Banjir Demak 2024 Berpotensi Kembalikan Selat Muria

Belakangan, timbul isu bahwa banjir di Demak terkait dengan kemunculan kembali Selat Muria.

Selat Muria adalah selat yang pernah menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Muria, menjadi pusat perdagangan yang ramai dengan kota-kota seperti Demak, Jepara, Pati, dan Juwana.

Sejak sekitar tahun 1657, sedimentasi dari sungai yang bermuara di selat ini menyebabkan selat tersebut dangkal dan akhirnya menghilang, menyatukan Pulau Muria dan Pulau Jawa.

Baca Juga:Sebelum Flu Singapura vs Flu Biasa Ini, Dahulu Pernah Ada Pandemi Flu Terparah Sepanjang SejarahHarga Saham GoTo Turun dan Perusahaan Alami Kerugian Hampir Menyentuh 100 Triliun Rupiah!

Secara geologis, wilayah Semarang Utara, Demak, dan sekitar Gunung Muria dulunya merupakan bagian dari Selat Muria.

Fosil hewan laut yang ditemukan di Situs Purbakala Patiayam, Kudus, menjadi bukti keberadaan Selat Muria, yang dulunya membuat Demak menjadi pusat perdagangan yang ramai.

Namun, karena konflik politik, perdagangan beralih ke Pelabuhan Sunda Kelapa, dan akibat sedimentasi serta pendangkalan, wilayah Selat Muria berubah menjadi daratan.

0 Komentar