CIREBON, RAKCER.ID – Belakangan ini media sosial sedang heboh dengan tren baru di kalangan pria Generasi Z.
Fenomena yang dikenal dengan Male’s Performative Phenomenon ini menampilkan para pria dengan gaya yang estetis, artsy, dan terkurasi seolah-olah hidup mereka adalah karya seni.
Dari pakaian hingga kebiasaan, semuanya terasa penuh perhitungan.
Dilansir dari berbagai sumber, mereka sering terlihat mengenakan pakaian vintage atau artsy, membawa tas jinjing, hingga membaca buku feminis di ruang publik.
Baca Juga:Batasan Mengunggah Konten Anak di Media Sosial, Lindungi Privasi dan Hak MerekaMengapa Parenting Modern Terasa Lebih Berat? Ini Alasan yang Perlu Dipahami
Sepintas, penampilan ini terlihat keren dan cerdas. Namun, muncul pertanyaan apakah semua itu tulus, atau sekadar pencitraan demi validasi sosial?
Ciri Khas Pria Performatif Gen Z
Fenomena Male’s Performative ini sebenarnya bukan sekadar soal gaya berpakaian. Lebih tepatnya, ini adalah strategi membangun citra diri yang diatur sedemikian rupa.
Beberapa ciri yang sering terlihat antara lain:
1. Gaya fashion artsy: pakaian vintage, celana longgar, aksesori nyentrik, hingga tote bag.
2. Detail estetis: tato tipis, rambut mullet, hingga perhiasan khas.
3. Lifestyle yang dikurasi: nongkrong sambil pesan matcha latte, membaca buku feminis atau pengembangan diri, mendengarkan musik dari penyanyi wanita indie seperti Laufey atau Clairo.
4. Eksis di media sosial: konten Instagram dan TikTok jadi panggung utama untuk menampilkan citra intelektual, sensitif, dan penuh estetika.
Sekilas, karakter ini tampak modern dan progresif. Namun, ada anggapan bahwa semua ini hanyalah “topeng” performatif belaka.
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan akan validasi sosial. Banyak pria Gen Z yang mengadopsi gaya ini karena dianggap lebih menarik di mata wanita.
Baca Juga:7 Alarm Bahaya Parental Burnout, Jangan Tunggu Sampai Terlambat!Stop Perfeksionis! 5 Cara Ibu Bekerja Bisa Tetap Bahagia dan Seimbang
Jika dulu maskulinitas ditunjukkan lewat kesan dominan atau macho, kini yang dinilai keren adalah pria yang tampak lembut, emosional, dan “aman”.
Namun, kritik pun muncul. Ada yang menyebut fenomena ini sebagai bentuk “feminisme performatif” di mana feminisme hanya dipakai sebagai alat pencitraan tanpa komitmen nyata terhadap kesetaraan gender.
Alih-alih tulus mendukung gerakan, sebagian pria justru menjadikan nilai-nilai progresif sebagai kostum sosial semata.