Kawasan Resapan Dirampas Kebijakan ??

Cirebon
Ilustrasi ruang terbuka hijau yang ditebangi. IST/ RAKCER.ID
0 Komentar

* Oleh : Agam Rahmad Prayogo – Kabid Partisipasi Pembangunan Daerah (PPD) HMI Cabang Cirebon

Hujan kerap diposisikan sebagai sebab tunggal setiap kali banjir melanda. Pandangan demikian menyederhanakan persoalan yang sesungguhnya jauh lebih kompleks.

Hujan pada hakikatnya merupakan peristiwa alamiah yang tunduk pada siklus hidrologi. Air turun, mengalir, meresap, lalu kembali menguap.

Baca Juga:Selama Ramadhan, Jalan Siliwangi Disulap Jadi Pasar TakjilSatu Tahun Edo-Farida, Teruskan Kerja Maksimal untuk Rakyat

Bencana muncul bukan semata karena intensitas curah hujan, melainkan karena perubahan pada ruang yang seharusnya menopang siklus tersebut. Ketika ruang rusak, air kehilangan tempat untuk ditahan dan diarahkan.

Dalam konteks inilah banjir di Kabupaten Cirebon perlu dibaca sebagai akumulasi kebijakan dan praktik pembangunan yang belum sepenuhnya selaras dengan daya dukung lingkungan.

Kabupaten Cirebon kembali terendam dalam rentang waktu yang berdekatan. Pasaleman, Ciledug, Losari, Pangenan, hingga Astanajapura mengalami genangan berulang.

Ratusan rumah terdampak, akses transportasi terputus, dan warga terpaksa mengungsi. Air yang belum sepenuhnya surut disusul ancaman hujan berikutnya.

Pola kejadian yang berulang dalam hitungan hari menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi bukan sekadar fluktuasi musim, melainkan kegagalan sistemik dalam pengelolaan wilayah.

Data kejadian memperlihatkan eskalasi yang patut menjadi perhatian serius. Pada 6 sampai 7 Februari sedikitnya empat desa terdampak dengan ratusan kepala keluarga menghadapi banjir.

Kondisi tersebut belum pulih sepenuhnya ketika pada 12 Februari malam hujan deras kembali mengguyur wilayah hulu dan memicu luapan sungai. Tanggal 13 Februari air kembali naik, sementara hingga 14 Februari genangan di sejumlah titik belum surut sepenuhnya.

Baca Juga:Forum Musyawarah Ulama Cirebon Raya Terbentuk, Pemkot Siap BersinergiSoal Batas Belum Tuntas, Komisi I Sidak ke Perbatasan

Rangkaian peristiwa dalam kurun kurang dari dua pekan itu memperlihatkan kerentanan yang tidak lagi dapat dianggap sebagai insiden musiman biasa.

Dari data, sedikitnya 388 rumah tercatat terendam dengan ketinggian air berkisar antara 20 hingga 150 sentimeter. Di Ciledug Wetan, genangan mencapai sekitar 150 sentimeter. Di Blok Pon, tinggi air berada pada kisaran 50 sampai 70 sentimeter. Lebih dari 1.500 warga terdampak dan sekitar 150 orang harus mengungsi karena rumah mereka tidak lagi aman ditempati.

Angka tersebut bukan sekadar statistik administratif. Di baliknya terdapat kerugian ekonomi, gangguan kesehatan, trauma psikologis, serta terganggunya aktivitas pendidikan dan pekerjaan.

0 Komentar