Kawasan Resapan Dirampas Kebijakan ??

Cirebon
Ilustrasi ruang terbuka hijau yang ditebangi. IST/ RAKCER.ID
0 Komentar

Luapan sungai menjadi faktor langsung yang memicu genangan. Sungai Cijangkelok, Cisanggarung, dan Singaraja mencatat debit melonjak hingga sekitar 700 meter kubik per detik.

Besarnya debit tentu menjadi variabel penting dalam analisis hidrologi. Persoalan tidak berhenti pada angka tersebut. Sungai sungai tersebut telah lama menanggung sedimentasi berlebih, tanggul yang mengalami rembesan, serta kapasitas saluran yang tidak lagi sebanding dengan peningkatan beban limpasan air. Ketika curah hujan tinggi terjadi, sistem yang sudah rentan itu tidak mampu lagi menahan tekanan.

Kondisi di hulu memperparah situasi. Kawasan penyangga seperti Ciremai mengalami alih fungsi lahan dalam skala yang mengkhawatirkan. Tutupan vegetasi yang seharusnya berperan sebagai penyerap air berkurang akibat perubahan peruntukan lahan.

Baca Juga:Selama Ramadhan, Jalan Siliwangi Disulap Jadi Pasar TakjilSatu Tahun Edo-Farida, Teruskan Kerja Maksimal untuk Rakyat

Tanah yang kehilangan daya serap menjadikan air hujan lebih cepat menjadi limpasan permukaan. Air yang dahulu tertahan oleh akar dan lapisan humus kini meluncur tanpa kendali menuju daerah hilir. Literatur hidrologi menegaskan bahwa perubahan tata guna lahan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan limpasan dan risiko banjir di kawasan hilir (Asdak, 2018).

Fenomena tersebut menunjukkan keterkaitan erat antara kebijakan perizinan, tata ruang, dan risiko bencana. Pembangunan fisik yang dianggap sebagai indikator kemajuan sering kali mengabaikan dimensi ekologis yang menopangnya.

Alih fungsi lahan tanpa kajian daya dukung dan daya tampung lingkungan akan menciptakan tekanan akumulatif pada daerah aliran sungai. Kerangka pengelolaan daerah aliran sungai seharusnya memadukan aspek hulu dan hilir dalam satu kesatuan sistem. Ketika hulu terdegradasi, hilir menanggung konsekuensi dalam bentuk banjir yang berulang.

Persoalan di tingkat lokal juga tidak dapat diabaikan. Sungai secara perlahan kehilangan fungsi ekologisnya dan diperlakukan sebagai ruang pembuangan.

Sampah plastik, limbah rumah tangga, serta material padat lainnya menyumbat aliran dan mempersempit kapasitas sungai. Drainase permukiman tidak terpelihara secara optimal. Ketika hujan deras datang, air tidak menemukan jalur yang memadai untuk mengalir. Rumah warga berubah menjadi ruang genangan.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan banjir tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur besar, tetapi juga dengan tata kelola lingkungan sehari hari.

0 Komentar