Boikot di Timur Tengah Memicu PHK Massal di Starbucks: 2.000 Karyawan Terdampak

Boikot di Timur Tengah Memicu PHK Massal di Starbucks: 2.000 Karyawan Terdampak
Boikot di Timur Tengah Memicu PHK Massal di Starbucks: 2.000 Karyawan Terdampak. FOTO:Pinterest.com/Rakcer.id
0 Komentar

JAKARTA, RAKCER.ID – Dalam respons terhadap tekanan bisnis yang berkelanjutan, AlShaya Group, pemegang lisensi Starbucks di kawasan Timur Tengah, telah mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari 2.000 pekerjanya. Keputusan berat ini dipicu oleh aksi boikot luas yang ditujukan kepada perusahaan, di mana Starbucks dituduh memiliki posisi pro-Israel dalam konflik yang berlangsung dengan Gaza.

Pemboikotan terhadap Starbucks di Timur Tengah ini telah menyebabkan penurunan drastis dalam kinerja bisnis perusahaan selama enam bulan terakhir, memaksa AlShaya Group untuk mengambil langkah signifikan ini. Pekan lalu, kira-kira 2.000 karyawan, atau sekitar 4% dari total tenaga kerja AlShaya yang beranggotakan hampir 50.000 orang, kebanyakan dari mereka bekerja di bawah waralaba Starbucks yang tersebar di Timur Tengah dan Afrika Utara, terpaksa di-PHK.

Dalam pernyataan resmi yang diterbitkan oleh AlShaya Group dan dikutip dari Reuters, perusahaan menyatakan bahwa mereka telah dipaksa untuk mengurangi jumlah staf di toko Starbucks sebagai “keputusan yang sulit” akibat kondisi perdagangan yang semakin menantang.

Baca Juga:Intip 7 Deretan Sumber Kekayaan Shireen Sungkar Lini Bisnis Sang Pelopor Fashion Hijab ArtisPengacara Terkenal Hotman Paris Kini Merambah Bisnis Kuliner dengan Ramen Harga Terjangkau

Sebaliknya, perwakilan Starbucks menegaskan komitmennya untuk mengatasi dampak dari kondisi ini terhadap para pekerjanya dan berjanji untuk terus bekerja sama dengan AlShaya guna mendukung pertumbuhan jangka panjang di region kritis ini. Perusahaan menyampaikan pikirannya kepada rekan-rekan mereka yang terkena dampak, mengucapkan terima kasih atas dedikasi dan kontribusi mereka.

AlShaya Group, didirikan pada tahun 1890 di Kuwait, merupakan salah satu pewaralaba ritel terbesar di Timur Tengah dengan hak atas berbagai merek Barat ternama, termasuk The Cheesecake Factory dan Shake Shack, selain dari Starbucks. Perusahaan ini mengelola sekitar 2.000 gerai Starbucks di 13 negara di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Tengah sejak tahun 1999.

Kampanye boikot yang dituduhkan kepada Starbucks muncul sebagai bagian dari reaksi luas terhadap aksi militer Israel di Jalur Gaza, yang di picu oleh serangan dari Hamas. Menanggapi boikot tersebut, Starbucks menyatakan pada bulan Oktober bahwa mereka adalah organisasi non-politik dan membantah klaim terkait dukungan terhadap salah satu pihak dalam konflik. Mereka juga mengakui bahwa perang Israel-Hamas telah merusak operasi bisnis mereka di wilayah tersebut.

0 Komentar