Bahaya! 250 Hektare Lahan Terancam Gagal Panen, Kades Jatiraga Kecamatan Jatitujuh Minta Solusi dari Pemerintah

gagal panen
TELAT TANAM. Kondisi sawah di Desa Jatiraga Kecamatan Jatitujuh mengalami kekeringan parah, dan terancam gagal panen. /rakcer.id/hasanudin
0 Komentar

RAKCER.ID – Ratusan hektare sawah di Desa Jatiraga Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka terancam gagal panen akibat mengalami kekeringan hebat.

Untuk menyelamatkan tanaman padi dari kemungkinan gagal panen, sejumlah petani berupaya memompa air dari sungai Cimanuk dengan biaya cukup tinggi.

Saat ini kondisi permukaan areal sawah di wilayah tersebut mulai retak-retak, dan sudah ada yang mencapai selebar 3 cm. Sebagian tanaman cukup lama tidak mendapat pasokan air hingga ada beberapa yang sudah mati, dan petani terancam gagal panen.

Baca Juga:Riwayat Kecap Asli Majalengka, Mencoba Bertahan di Tengah Fluktuasi Harga Bahan BakuKecap Asli Majalengka Tembus Pasar Arab Saudi, Andalan di Restoran Seberang Masjidil Haram

Menurut keterangan sejumlah petani, usia tanaman padi di wilayah tersebut sekitar 1,6 bulan, ada juga yang sudah mencapai dua bulan.

Jika ada hujan turun atau pengairan dengan pompa bisa maksimal, sebagian areal sawah masih bisa terselamatkan walaupun hasil panen tidak akan maksimal.

“Sudah lama tidak turun hujan, sementara cuaca panas sehingga permukaan tanah sawah lebih cepat kering dan retak-retak,” ungkap Carda, salah seorang petani, Rabu 14 Juni 2023.

Menurutnya sejumlah petani kini pasrah menerima keadaan dengan risiko puso dan bahkan mungkin tidak akan bisa dipanen karena tanaman mati.

Ada juga yang berupaya memompa air dengan risiko biaya yang cukup tinggi, karena harus menyewa pompa kepada pemilik pompa. “Sewa pompa kan tergantung berapa banyak habis solar dan lamanya penggunaan,” ungkap Carda.

Modal tanam dan biaya garap serta biaya pompa menurutnya bisa mencapai Rp7.000.000 per hektare, karena upah saat ini sudah mahal dan sulit diperoleh.

Kades Minta Pemerintah Carikan Solusi Gagal Panen

Kepala Desa Jatiraga Carsidik membenarkan, areal sawah yang terancam gagal panen di wilayahnya mencapai 250 hektare. Kondisi tersebut karena seluruhnya tidak terairi sedangkan jumlah pompa saat ini sangat terbatas, yakni hanya ada 15 pompa berkapasitas 6 dan 8 inci.

Baca Juga:4 Lokasi Kemah di Sindangwangi Kabupaten Majalengka, Bikin Betah Turis AmerikaViktor Axelsen Incar Hat-trick Indonesia Open 2023, Anthony Sinisuka Ginting Percaya Diri

Saat ini semua pompa milik masyarakat dioperasikan selama 24 jam untuk menyedot air dari Saluran Induk Sindupraja yang selanjutnya dialirkan ke Sungai Cibuaya. Dari Cibuaya baru dialirkan dengan pompa ke areal sawah milik petani.

“Sawah ini biasanya dialiri air dari Sungai Cibuaya, namun karena Sungai Cibuaya mengering akhirnya harus menyedot air dari Saluran Induk Sindupraja, kemudian dialirkan ke Cibuaya baru dipompa lagi ke sawah. Makanya biaya operasional mahal dan tidak bisa dengan pompa kecil ukuran 3 inci,” ungkap Carsidik.

0 Komentar