RAKCER.ID – Langit malam tak pernah gagal memikat hati siapa pun yang mengamatinya. Salah satu fenomena langit yang paling ditunggu-tunggu setiap tahun adalah munculnya bulan purnama khas musim panas.
Fenomena ini dikenal secara internasional dengan nama yang khas, yaitu Strawberry Moon. Namun, apakah Anda pernah merenungkan alasan mengapa peristiwa Strawberry Moon selalu terjadi pada bulan Juni? Berikut adalah penjelasan secara ilmiah dan sejarah.
Bagi sebagian orang, nama ini mungkin terdengar seperti sebuah ungkapan yang menyiratkan bahwa bulan akan berubah menjadi warna pink atau merah layaknya buah stroberi.
Baca Juga:Timnas Voli Indonesia Juara 1 AVC CUP 2026 : Hajar Korea Dengan Skor Kacamata Tim Futsal Asal Kuningan Jawa Barat : Proton FC Juara 1 PFL 2 2026
Sebenarnya, penamaan ini tidak berkaitan langsung dengan perubahan warna fisik bulan, tetapi merupakan tradisi penanggalan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Asal Usul Nama Strawberry Moon: Tradisi Suku Asli Amerika
Sebab utama mengapa fenomena ini selalu terjadi pada bulan Juni berakar dari kebudayaan suku asli di Amerika Utara, yaitu Suku Algonquin. Jauh sebelum masyarakat modern mengadopsi kalender Masehi, suku-suku purba menggunakan fase bulan purnama sebagai penanda peralihan musim serta panduan untuk aktivitas pertanian atau berburu.
Bulan Juni adalah saat di mana stroberi liar mulai matang dan siap untuk dipetik di kawasan Amerika Utara. Oleh karena itu, suku asli menamai bulan purnama yang muncul di bulan Juni sebagai Strawberry Moon untuk menandai dimulainya musim panen buah tersebut.
Selain nama tersebut, bulan purnama di bulan Juni juga dikenal dengan sebutan lain di berbagai belahan dunia, seperti Rose Moon di Eropa karena bertepatan dengan musim mekarnya bunga mawar, serta Hot Moon yang menandakan awal musim panas di belahan bumi utara.
Sisi Astronomis: Kenapa Selalu Terjadi di Bulan Juni?
Dari sudut pandang ilmiah dan astronomi, posisi bulan purnama ini dipengaruhi oleh siklus tahunan orbit bumi saat mengelilingi matahari. Bulan Juni identik dengan fenomena Titik Balik Musim Panas, yang umumnya berlangsung sekitar tanggal 20 hingga 22 Juni.
Saat solstis ini terjadi, matahari berada di titik tertinggi di langit belahan bumi utara. Sebaliknya, karena posisi matahari yang menggapai puncaknya, bulan purnama yang terjadi di waktu ini akan berada pada ketinggian yang relatif rendah di cakrawala.
