CIREBON – Kondisi musim kemarau saat ini sangat berpengaruh terhadap dunia pertanian, terlebih di Kota Cirebon yang lahannya sangat terbatas, dan produk pertaniannya sudah mulai beralih di lingkungan padat penduduk khas perkotaan dengan memanfaatkan ruang terbatas atau urban farming.
Tak hanya berpengaruh terhadap ketersediaan air sebagai pendukung utama semua tanaman, suhu udara panas juga memiliki potensi besar untuk menganggu pertumbuhan.
Maka ditengah kondisi ini, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kota Cirebon melakukan upaya pemantauan ketat terhadap titik-titik urban farming yang sudah berjalan di masyarakat.
Baca Juga:Wawali Minta Tren Positif Kunjungan Wisata Terus DijagaSelama 2026, Kota Cirebon Sudah Dikunjungi 2,67 Juta Wisatawan
Kepala DKPPP, Elmi Masruroh menilai panas yang berlebihan ini menjadi persoalan yang lebih berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman, terlebih untuk tanaman sayuran yang banyak ditanam di area urban farming di Kota Cirebon.
“Sayuran ini usia panennya relatif pendek, tapi rentan, cenderung lebih cepat layu ketika terpapar suhu tinggi,” ungkap Elmi.
Kerentanan ini harus menjadi perhatian, sehingga petani, atau pengelola urban farming harus lebih intens memperhatikan tanamannya.
Disebutkan Elmi, saat ini kegiatan urban farming di Kota Cirebon masih dilakukan dalam skala rumah tangga, yang tersebar di sejumlah titik dan dikelola secara berkelompok, baik kelompok wanita tani (KWT) maupun kelompok tani hortikultura.
Jumlah titiknya sendiri cukup banyak, dimana ada 51 kelompok tani hortikultura dan 35 KWT, yang kebanyakan tersebar di Kelurahan Kalijaga dan Pulasaren.
Dari hasil pemantauan, sementara ini DKPPP melihat dari sisi ketersediaan air beberapa titik urban farming relatif masih aman karena memanfaatkan sumur bor untuk memenuhi kebutuhan penyiraman, terlebih untuk skala rumah tangga kebutuhan airnya tidak terlalu besar.
“Urban farming kebanyakan menggunakan sumur bor. Jadi airnya masih aman, tidak begitu signifikan terdampak dari ketersediaan air,” sebut Elmi.
Baca Juga:Realisasi Investasi Sudah Sampai di Angka 3,6 TrilyunDapat Bantuan 200 Becak Listrik, Walikota Dorong Pengembangan Becak Wisata
Meskipun demikian, ketersediaan air yang cukup aman juga perlu diimbangi dengan pola perawatan yang tepat, sehingga masyarakat diminta tidak menunggu tanaman terlihat layu untuk melakukan penyiraman, media tanam harus terus dipastikan memiliki kelembapan.
Apalagu tanaman yang ditanam menggunakan polybag dan ditempatkan pada rak bertingkat, bukan hanya media tanamnya, penyiraman juga harus dilakukan di area lantai di bawah rak.
