Inovasi AR Interaktif Kenalkan Kuliner Cirebon kepada Gen Alpha

Kuliner Cirebon
INOVASI. Jelajah Rasa Jaga Budaya angkat kuliner khas Cirebon melalui platform Augmented Reality (AR) interaktif. Foto: Indah Tri Sutono/RAKCER.ID
0 Komentar

RAKCER.ID – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, cara mengenalkan budaya kepada anak-anak ikut mengalami perubahan. Generasi Alpha yang tumbuh bersama gawai cenderung lebih tertarik pada media visual dan interaktif dibandingkan metode konvensional. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang dalam upaya pelestarian budaya, termasuk kuliner tradisional.

Menjawab tantangan tersebut, hadir program Jelajah Rasa Jaga Budaya yang mengangkat kuliner khas Cirebon melalui platform Augmented Reality (AR) interaktif. Program ini merupakan bagian dari Program Dana Indonesiana Tahun Pendanaan 2025 oleh Kementerian Kebudayaan yang mendukung inovasi pelestarian budaya berbasis teknologi.

Program ini dikembangkan oleh tim peneliti yang diketuai oleh Eliya Rochmah. Melalui pendekatan digital, kuliner tidak hanya diperkenalkan sebagai makanan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya yang memiliki cerita, nilai, dan sejarah.

Baca Juga:Milangkala Tatar Sunda di Cirebon Hadirkan Semangat Pelestarian Warisan LeluhurBank Cirebon Jabar Klaim Sehat

Dalam platform AR yang dikembangkan, pengguna dapat melihat visualisasi makanan khas Cirebon secara lebih hidup. Anak-anak dapat mengenal bentuk makanan, bahan-bahan yang digunakan, hingga proses pembuatannya melalui pengalaman yang lebih interaktif. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan ketertarikan generasi muda terhadap budaya lokal.

Selain menyasar Gen Alpha sebagai pengguna utama, program ini juga melibatkan pelaku UMKM sebagai bagian penting dalam ekosistem budaya. Dalam tahap awal pengembangan, tim melakukan wawancara dengan pelaku usaha kuliner lokal untuk memahami kebutuhan dan tantangan yang mereka hadapi. Salah satunya adalah Tikma, pedagang empal di Cirebon. Ia mengungkapkan bahwa selama ini promosi kuliner masih dilakukan secara sederhana dan belum banyak memanfaatkan teknologi. “Sekarang anak-anak lebih tertarik dengan yang visual dan digital. Kalau kuliner dikenalkan lewat media seperti ini, pasti lebih menarik dan mudah diingat,” ujarnya.

Tikma juga menambahkan bahwa pendekatan berbasis teknologi dapat membantu pelaku UMKM menjangkau pasar yang lebih luas. “Selama ini kami hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung. Kalau ada media digital seperti ini, mungkin bisa lebih dikenal, bahkan oleh orang di luar daerah,” tambahnya.

Melalui integrasi teknologi dan budaya, program ini diharapkan tidak hanya menjadi media pembelajaran, tetapi juga sarana promosi yang relevan dengan perkembangan zaman. Kuliner Cirebon tidak hanya dikenalkan sebagai produk konsumsi, tetapi juga sebagai bagian dari warisan budaya yang perlu dijaga.

0 Komentar