Inovasi Buku Braille Bergambar untuk Siswa Inklusif, Angkat Cerita Budaya Cirebon

Inovasi Buku Braille Bergambar untuk Siswa Inklusif, Angkat Cerita Budaya Cirebon
Inovasi Buku Braille Bergambar untuk Siswa Inklusif, Angkat Cerita Budaya Cirebon. FOTO: ISTIMEWA/RAKCER.ID
0 Komentar

CIREBON, RAKCER.ID – Upaya penguatan literasi inklusif di Indonesia terus didorong melalui berbagai inovasi pendidikan yang lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik.

Salah satu bentuk inovasi tersebut adalah pengembangan buku braille bergambar berbasis cerita budaya Cirebon yang ditujukan bagi siswa inklusif, khususnya anak tunanetra di jenjang sekolah dasar.

Selama ini, akses terhadap bahan bacaan yang ramah bagi anak tunanetra masih menjadi tantangan.

Baca Juga:Putusan DKPP Dinilai Tak Berperasaan, Eep Desak Copot Komisioner KPU Majalengka Terbukti SalahRetribusi PAD Parkir di Kota Cirebon Tak Sesuai Harapan, DPRD Kota Cirebon Desak Perubahan Sistem Pengelolaan

Tidak hanya terbatas dari segi jumlah, tetapi juga dari segi keberagaman isi, terutama yang mengangkat budaya lokal sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual.

Pengembangan ini merupakan bagian dari Program Dana Indonesiana Tahun Pendanaan 2025 oleh Kementerian Kebudayaan, yang mendorong integrasi antara pelestarian budaya dan inovasi pendidikan inklusif.

Program ini menjadi salah satu langkah strategis dalam menghadirkan media pembelajaran yang tidak hanya aksesibel, tetapi juga bermakna secara kultural.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim peneliti yang diketuai oleh Erna Labudasari.

Pada tahap awal, tim melakukan analisis kebutuhan melalui wawancara dengan guru sekolah luar biasa (SLB) di Cirebon, Iis naisah, S.Pd dan Rima Nurita Ramdhani, S.Pd.

Dari hasil wawancara tersebut, guru tersebut menyampaikan bahwa buku braille yang tersedia saat ini masih terbatas dan umumnya memiliki harga yang relatif tinggi.

“Buku cerita braille sebenarnya sudah tersedia, namun yang dilengkapi dengan ilustrasi yang dapat dipahami, disertai teks dalam bahasa Indonesia, serta didukung media pembelajaran seperti video, masih sangat terbatas, khususnya yang mengangkat budaya Cirebon,” ujarnya.

Baca Juga:Gerakan Peduli Lingkungan, Kota Cirebon Lakukan Aksi Kolaboratif di TPS3R KebonbaruKelurahan Kebonbaru Terima Bantuan Pengelolaan Sampah dari Pemerintah

Menurutnya, kehadiran buku yang menggabungkan berbagai elemen tersebut sangat penting untuk mendukung pemahaman siswa. Integrasi antara teks braille, teks cetak (bahasa Indonesia), ilustrasi, dan media pendukung seperti video dapat membantu siswa dalam memahami isi cerita secara lebih utuh.

Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebutuhan siswa tunanetra dengan ketersediaan bahan ajar yang relevan.

Padahal, pengenalan budaya lokal sejak dini memiliki peran penting dalam membangun identitas dan karakter peserta didik.

Selain itu, guru juga menekankan bahwa media pembelajaran bagi siswa tunanetra tidak cukup hanya berbasis teks braille.

0 Komentar