Milangkala Tatar Sunda di Cirebon Hadirkan Semangat Pelestarian Warisan Leluhur

Milangkala Tatar Sunda
PIMPIN. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi memimpin prosesi lesehan khidmat di depan Gedung BAT Kota Cirebon dan diikuti oleh Wakil Gubernur Jawa Barat, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, serta jajaran kepala daerah. INDAH TRI SUTONO/RAKYAT CIREBON
0 Komentar

RAKYATCIREBON.ID — Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Pemerintah Daerah Kota Cirebon sukses menggelar rangkaian acara Milangkala Tatar Sunda yang berlangsung meriah di Kota Cirebon, Minggu (10/5) malam.

Kegiatan budaya tersebut menghadirkan kirab budaya yang mempertemukan tradisi Sunda dan Cirebon dengan partisipasi 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat serta sejumlah daerah dari luar Jawa Barat seperti DKI Jakarta, Cilacap, Brebes, dan Banten.

Acara dimulai dengan prosesi lesehan khidmat di depan Gedung BAT Kota Cirebon yang dihadiri Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Wakil Gubernur Jawa Barat, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, jajaran kepala daerah.

Baca Juga:Bank Cirebon Jabar Klaim SehatKPU Tegas Larang Kampanye Pawai dan Penggunaan Fasilitas Pemerintah di Pilkada Cirebon

Dalam suasana penuh penghormatan terhadap budaya leluhur, para pemimpin daerah duduk lesehan sambil mengikuti rangkaian pembukaan Milangkala Tatar Sunda. Setelah itu, rombongan pimpinan daerah melaksanakan kirab budaya dengan menaiki Kuda melintasi sejumlah ruas jalan seperti Jalan Pekiringan, Jalan Pasuketan, Jalan Panjunan, Jalan Pulasaren, Jalan Aryodinoto hingga berakhir di Alun-alun Sangkala Buana Kasepuhan.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi dalam sambutannya menyampaikan, kegiatan Milangkala Tatar Sunda bukan sekadar seremoni budaya, melainkan upaya membangun jembatan antara sejarah masa lalu dan masa depan peradaban Sunda.

“Masa lalu adalah sejarah, filosofi, dan ideologi. Sedangkan masa depan adalah tantangan yang harus diwujudkan. Tidak ada bangsa besar yang bisa menjadi kuat tanpa terikat dengan sejarah dan budayanya sendiri,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa Kerajaan Pajajaran bukan sekadar cerita legenda, melainkan bagian nyata dari sejarah Sunda yang jejaknya masih dapat ditemukan hingga saat ini, termasuk melalui keberadaan keraton dan garis keturunan para leluhur Sunda.

“Banyak orang yang bercerita Pajajaran itu mimpi, Pajajaran itu karangan para pujangga. Padahal Pajajaran itu adalah fakta. Faktanya bukan hanya Batu Tulis atau Mahkota Binokasih, tetapi sampai hari ini masih berdiri kokoh gapura-gapura keraton, keturunannya masih ada, genetikanya masih ada, jalurnya ke Prabu Siliwangi masih ada. Artinya Pajajaran itu memang ada dan tidak akan pernah pudar dimakan zaman,” tegasnya.

KDM sapaan akrabnya juga turut menceritakan perjalanan panjangnya memperjuangkan pembangunan berbasis budaya Sunda sejak menjabat Wakil Bupati Purwakarta pada 2003.

0 Komentar