Diperlukan pendekatan yang lebih konkret melalui elemen taktil agar siswa dapat memahami isi cerita secara lebih menyeluruh.
Menanggapi kebutuhan tersebut, buku yang tengah dikembangkan dirancang dengan mengintegrasikan teks braille dan ilustrasi taktil.
Pendekatan ini memungkinkan siswa tidak hanya membaca, tetapi juga memahami bentuk dan alur cerita melalui pengalaman yang lebih konkret.
Baca Juga:Putusan DKPP Dinilai Tak Berperasaan, Eep Desak Copot Komisioner KPU Majalengka Terbukti SalahRetribusi PAD Parkir di Kota Cirebon Tak Sesuai Harapan, DPRD Kota Cirebon Desak Perubahan Sistem Pengelolaan
Cerita yang diangkat berasal dari kekayaan budaya Cirebon yang sarat nilai kearifan lokal, seperti nilai kebersamaan, tradisi, dan identitas daerah.
Dengan demikian, buku ini tidak hanya berfungsi sebagai media literasi, tetapi juga sebagai sarana pelestarian budaya yang inklusif.
Lebih jauh, pengembangan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi siswa tunanetra, sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi mereka untuk mengakses pengetahuan budaya secara setara.
Saat ini, pengembangan buku masih berada pada tahap penyusunan konten dan desain media, termasuk penyesuaian bentuk ilustrasi taktil agar sesuai dengan karakteristik pembaca.
Kedepan, inovasi ini direncanakan untuk diimplementasikan dalam pembelajaran di sekolah dasar inklusif.
Dengan adanya media ini, diharapkan literasi tidak lagi menjadi batas, melainkan jembatan yang menghubungkan semua anak tanpa terkecuali dengan pengetahuan, budaya, dan pengalaman belajar yang setara. (Erna Labudasari)
