Namun, pada beberapa momen sidak atau di gerai pangan murah, masyarakat masih bisa mendapatkannya sesuai tarif HET resmi.
Di sisi lain, pada tingkat toko kelontong kecil yang membelinya dari tangan ketiga, harganya bisa menyentuh angka Rp18.000 per liter.
2. Wilayah Sumatera
Di pulau Sumatera, harga cenderung sedikit di atas pulau Jawa karena faktor biaya pengiriman darat.
Baca Juga:Review OPPO Reno 16 Indonesia: Fitur Premium, Desain Mewah, dan Harga TerbaruDaftar Harga OPPO Reno 16, Reno 16 Pro, dan Reno 16F Terbaru Resmi
Di beberapa kota besar seperti Medan, Palembang, Lampung, dan Jambi, komoditas ini rata-rata dibanderol dengan harga Rp16.500 sampai Rp18.000 per liter.
Stok di wilayah ini relatif stabil, walau terkadang mengalami keterlambatan kiriman ke area pelosok atau kabupaten yang jauh dari pelabuhan utama.
3. Wilayah Kalimantan dan Sulawesi
Bergeser ke area Kalimantan dan Sulawesi, tantangan geografis mulai memengaruhi banderol harga. Konsumen di wilayah ini umumnya harus merogoh kocek berkisar antara Rp17.500 hingga Rp19.000 per liter.
Angka ini dinilai masih wajar oleh pedagang setempat mengingat ongkos angkut logistik antarpulau yang cukup tinggi dari pabrik pengolahan di pulau Jawa atau Sumatra.
4. Wilayah Indonesia Timur (Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua)
Tantangan distribusi paling besar berada di kawasan Indonesia Timur. Di beberapa kabupaten di Maluku dan Papua, keterbatasan moda transportasi laut sering kali memicu kelangkaan barang.
Akibatnya, harga Minyakita di tingkat pengecer bisa melonjak hingga Rp20.000 bahkan Rp22.000 per liter.
Pemerintah daerah setempat terus berupaya menggelar operasi pasar murah guna menekan lonjakan harga tersebut agar kembali mendekati tarif nasional.
Baca Juga:100% Berhasil! 3 Cara Nonton TVRI Piala Dunia 2026 Gratis Tanpa RibetPanduan Lengkap Setting TV untuk Nonton TVRI Piala Dunia 2026 Gratis
Mengapa Harga di Pasar Sering Melebihi HET?
Ada beberapa faktor mendasar yang menyebabkan mengapa Anda sering menemukan produk ini dijual lebih mahal daripada ketentuan pemerintah:
- Rantai Distribusi yang Terlalu Panjang: Sering kali barang harus melewati agen besar, sub-agen, grosir, hingga akhirnya sampai ke pedagang eceran terkecil. Tiap lapisan mengambil margin keuntungan yang membuat harga membengkak.
- Biaya Transportasi dan Logistik: Indonesia yang berbentuk kepulauan membuat ongkos kirim ke luar pulau Jawa menjadi sangat mahal, terutama untuk wilayah pelosok.
- Penyalahgunaan Oknum Penjual: Adanya praktik toko fiktif atau aksi borong oleh spekulan yang kemudian menjualnya kembali dalam bentuk paket atau dengan harga di atas ketentuan saat stok di pasar mulai menipis.
