Parenting di Era yang Genting

Parenting
Zamzam Zamaludin Yusup, Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Siliwangi Tasikmalaya, Prodi Manajemen konsentrasi Sumber Daya Manusia. FOTO:IST/ RAKCER.ID
0 Komentar

CIREBON – Kegentingan pertaman saya mulai dari sebuah tesis mashur yang diketahui banyak orang tentang “Apa Yang Kita Tanam Itu Yang Akan Kita Tuai” tesis ini berbicara hukum Kausalitas (timbal balik).

Namun, seringkali orang memahami konteks tesis tersebut hanya pada ranah baik atau buruk saja.

Jarang, bahkan cenderung tidak ada yang mengaitkannya pada konteks system atau politik.

Baca Juga:Bakesbangpol Kota Cirebon Awasi Penggunaan Dana BanpolSiti Farida Bertemu Kembali Warga Argasunya yang Ia Bantu Dulu

Padahal secara tidak langsung tesis tersebut juga mengatakan “jika dari awal prosesnya menghalalkan segala cara lalu bagaimana mungkin selama periodesasinya dia berjalan sesuai janjinya” atau bisa juga begini “jika hukum bisa dilonggarkan oleh seberapa besar sogokan, lalu bagaimana mungkin aturan bisa di tegakkan”.

Pertanyaannya adalah pernahkah konteks tesis ini ada di benak kita? (silahkan renungkan sebelum lanjut membaca).

Karena jauh sebelum kita menyalahkan penguasa, terlebih dahulu kita pertanyakan soal pertimbangan apa yang mendasari kita memilihnya kala itu.

Kesadaran ini sangat penting! Kenapa? Karena proses pemilihan itu hanya 5 menit namun atas pilihan yang 5 menit itu dapat memengaruhi kehidupan 5 tahun kedepan si pemilihnya.

Lantas, apakah yang kita rasakan hari ini Adalah sebab akibat dari pilihan kita waktu pemilu?.

Kegentingan kedua saya mengutip dari seorang tokoh politik klasik dari Italia yang sama-sama menganggap negaranya genting yaitu Niccolo Machiavelli, menurutnya ‘penguasa punya dua pilihan untuk bisa dipandang, satu ditakuti dua dicintai, namun kebanyakan penguasa memilih jalan untuk ditakuti’ dan itu sah karena itu pilihan untuk keberlangsungan menjalankan periodesasinya.

Namun, pilihan tersebut jadi tidak sah ketika disatu sisi penguasa juga mengatakan bahwa sistem bernegaranya itu adalah demokrasi. Kenapa? Carl Gustav.

Baca Juga:Per September, 60 PPPK di Kota Cirebon Naik GajiWawali Dorong Anak Muda Melek Politik

Jung pernah berkata ‘Ketika masyarakat merasa takut pada penguasa berarti negara tersebut bukan penganut sistem demokrasi tetapi otoritarian’, sebab syarat pertama dari demokrasi adalah kebebasan berekspresi atau kebebasan berpendapat.

Pertanyaannya, apa yang kita rasakan? banyak rasa takut atau bebas dari banyaknya ketakutan! Namun ini bukan soal takut tetapi soal pengetahuan.

Karena terkadang rasa takut bukan disebabkan oleh lemahnya mental tetapi besarnya ketidaktahuan.

0 Komentar