RAKCER.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Barat secara resmi memetakan sebaran wilayah yang akan mengalami penurunan intensitas hujan secara signifikan sepanjang sepekan ke depan.
Berdasarkan rilis prospek cuaca mingguan terbaru, sebagian besar daerah di Jawa Barat diproyeksikan mulai memasuki fase kering yang cukup merata.
Langkah pemetaan ini dirilis sebagai panduan bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk mengantisipasi masa transisi iklim.
Baca Juga:Prakiraan Cuaca Cirebon 25 Juni 2026: Siang Hari Cerah Berawan, Suhu Maksimal Capai 33°C!Harga Bahan Pokok Kota Cirebon Hari Ini 25 Juni 2026, Minyak Goreng dan Daging Sapi Kompak Naik
Meskipun peta sebaran menunjukkan penurunan curah hujan yang meluas, dinamika kondisi cuaca di lapangan diperkirakan tetap bervariasi di beberapa titik.
Peta Wilayah Kering dan Potensi Hujan Lokal
Berdasarkan data grafik prakiraan dari tanggal 25 Juni hingga 1 Juli 2026, status “Nihil” dari potensi hujan lebat mendominasi hampir seluruh wilayah kabupaten dan kota di Jawa Barat.
Kawasan pantai utara (pantura) seperti Kabupaten dan Kota Cirebon, Indramayu, hingga Majalengka dipetakan akan mengalami hari-hari yang didominasi oleh cuaca cerah dan cerah berawan dengan suhu udara harian yang cukup terik.
Namun, di tengah kepungan wilayah berstatus nihil tersebut, terdapat pengecualian sirkulasi atmosfer pada hari-hari tertentu.
Berdasarkan peta proyeksi harian, potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang disertai kilat dan angin kencang berdurasi singkat masih menyisakan jejaknya di klaster wilayah Priangan Timur.
Secara spesifik, potensi hujan lokal berskala pendek tersebut dipetakan terkonsentrasi pada hari Sabtu, 27 Juni 2026.
Adapun wilayah yang masuk dalam peta potensi hujan lokal ini meliputi Kabupaten Garut, Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, hingga Kota Banjar.
Baca Juga:Cek Desil DTKS Kemensos.go.id Lewat HP untuk Validasi Bansos 2026Review Kamera Tecno Camon Slim: Uji Sensor Sony LYT-600 50 MP dan Performa OIS
Di luar wilayah dan tanggal tersebut, peta sirkulasi cuaca secara umum menunjukkan kondisi yang sepenuhnya bersih dari potensi hujan dengan intensitas tinggi.
Faktor Pemicu dan Karakteristik Cuaca Peralihan
Munculnya titik-titik hujan lokal di beberapa wilayah dataran tinggi tersebut disebabkan oleh tingkat labilitas atmosfer yang bervariasi dari kategori ringan hingga kuat.
Selain itu, suhu muka laut di perairan sekitar Indonesia yang masih relatif hangat memicu penguapan lokal, yang kemudian didukung oleh aktifnya gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby di wilayah Jawa Barat.
