Tujuan utama dari reverse stock split biasanya bersifat defensif. Perusahaan kerap menggunakan strategi ini untuk menyelamatkan harga saham mereka yang sudah merosot terlalu dalam atau mendekati batas bawah harga regulasi bursa (misalnya zona saham gocap).
Dengan menaikkan harga per lembar secara artifisial, emiten berharap bisa memperbaiki citra saham mereka di mata investor institusi dan menghindari risiko delisting (penghapusan pencatatan saham) dari papan bursa.
Perbedaan Utama: Stock Split vs Reverse Stock Split
Untuk mempermudah pemahamanmu, berikut adalah poin-poin perbedaan krusial dari kedua aksi korporasi tersebut:
Baca Juga:One Piece Bab 1186: Semua yang Perlu Kamu Ketahui Sebelum MembacaRockstar Games GTA VI Siap Meluncur: Cek Jadwal Rilis dan Platform yang Didukung
- Jumlah Saham Beredar: Pada stock split jumlah saham beredar menjadi bertambah banyak, sedangkan pada reverse stock split jumlahnya berkurang sedikit.
- Harga Per Lembar Saham: Pada stock split harga saham menjadi lebih murah, sedangkan pada reverse stock split harganya menjadi lebih mahal.
- Tujuan Utama: Stock split bertujuan meningkatkan likuiditas pasar, sedangkan reverse stock split bertujuan menghindari risiko delisting.
- Sentimen Pasar: Stock split cenderung membawa sentimen positif, sedangkan reverse stock split cenderung membawa sentimen negatif.
- Target Investor: Stock split ditujukan untuk menarik investor ritel kecil, sedangkan reverse stock split ditujukan untuk menjaga minat investor institusi.
Mana yang Lebih Menguntungkan bagi Investor?
Jika berbicara mengenai potensi cuan, secara historis Stock Split jauh lebih sering menguntungkan investor dibandingkan dengan reverse stock split. Mengapa demikian?
Ketika sebuah emiten mengumumkan pemecahan saham, pasar menangkap sinyal bahwa bisnis perusahaan tersebut sedang tumbuh pesat hingga harganya dinilai sudah terlalu mahal untuk dibeli secara kasual.
Setelah harga sahamnya disesuaikan menjadi lebih murah, gelombang permintaan dari investor ritel biasanya akan langsung membanjiri pasar.
Hukum permintaan dan penawaran inilah yang kerap mengerek naik harga saham baru tersebut dalam jangka pendek maupun menengah.
Sebaliknya, reverse stock split sering kali dipandang sebagai sinyal darurat atau “lampu merah” oleh para pelaku pasar.
Sering kali, harga saham yang dipaksa naik lewat aksi penggabungan ini justru kembali merosot setelah prosesnya selesai, karena fundamental perusahaan dasarnya belum benar-benar sehat.
