Di sisi lain, hasil pengamatan lapangan menunjukkan keberadaan musuh alami yang dinilai potensial dalam menekan populasi hama secara alami. Di antaranya Lycosa sp. sebesar 0,36 ekor per rumpun dan Paederus sp. sebesar 0,13 ekor per rumpun.
Wahyu menekankan bahwa keberhasilan pengendalian tidak hanya berhenti pada pelaksanaan Gerdal, melainkan harus dibarengi monitoring berkelanjutan sebagai bagian dari sistem peringatan dini serangan hama.
“Pengamatan pasca-pengendalian menjadi kunci. Ini bagian dari sistem peringatan dini agar serangan tidak meluas dan bisa dikendalikan sejak dini,” tegasnya.
Baca Juga:Bupati dan BPS Sepakat Sukseskan Desa Cantik dan Sensus Ekonomi 2026Kabar Baik untuk RT/RW, Pemkab Kuningan Targetkan Dana Stimulan Cair Mei 2026
Ia juga menilai keterlibatan aktif petani menjadi faktor utama keberhasilan pengamanan produksi padi di lapangan.“Pengendalian hama adalah kerja bersama.
Ketika petani, penyuluh, dan pemerintah bergerak serentak, maka potensi kehilangan hasil bisa ditekan secara signifikan,” ujarnya.
Dengan pendekatan pengendalian berbasis ekosistem yang terus diperkuat, Pemkab Kuningan optimistis produktivitas padi tetap terjaga di tengah tantangan perubahan iklim dan dinamika serangan hama, sekaligus mendukung penguatan ketahanan pangan daerah. (Bud)
