RAKCER.ID – Bulan Muharram tidak sekadar menandai pergantian tahun dalam kalender Islam. Bagi umat Muslim, bulan ini adalah salah satu dari empat asyhurul hurum, bulan-bulan yang disucikan Allah SWT, di mana setiap amal kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya.
Di antara lembaran hari di bulan mulia ini, tanggal 9 dan 10 Muharram memuat momentum ibadah yang sangat sayang jika dilewatkan, yaitu puasa Tasua dan Asyura.
Pada tahun 2026 ini, pelaksanaan kedua puasa sunnah tersebut jatuh di penghujung bulan Juni (berkisar antara tanggal 24 hingga 26 Juni, tergantung ketetapan awal Muharram yang Anda ikuti).
Baca Juga:Bacaan Niat Puasa Tasua dan Asyura 2026: Arab, Latin, dan ArtinyaPuasa Tasua dan Asyura 2026 Jatuh pada Tanggal Berapa? Ini Jadwal Lengkapnya
Meluangkan waktu dua hari untuk menahan lapar dan dahaga di pekan ini menjanjikan keutamaan luar biasa yang jarang ditemui pada bulan-bulan lainnya.
Menghapus Dosa Setahun yang Lalu
Daya tarik utama sekaligus keistimewaan terbesar dari puasa Asyura (10 Muharram) adalah jaminan ampunan dosa. Rasulullah SAW menegaskan bahwa puasa pada hari tersebut dapat melebur dosa-dosa kecil yang kita lakukan sepanjang setahun ke belakang.
Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar Ia menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)
Bayangkan betapa pemurahnya Allah SWT; hanya dengan konsisten berpuasa selama satu hari penuh, catatan khilaf dan dosa kecil kita selama 12 bulan ke belakang berpotensi diputihkan kembali.
Ini adalah kesempatan emas untuk memulai lembaran baru di tahun baru Islam 1448 Hijriah dengan jiwa yang lebih bersih.
Alasan di Balik Anjuran Puasa Tasua
Jika puasa Asyura sudah sedemikian dahsyat keutamaannya, mengapa kita juga dianjurkan untuk berpuasa sehari sebelumnya, yaitu pada hari Tasua (9 Muharram)?
Baca Juga:Sambut Windows 11 26H2, Microsoft Ingatkan Admin IT untuk Lakukan 4 Langkah Persiapan IniSiap-Siap Update Windows 11 26H2, Ini Cara Cek Spek PC dan Panduan Instalasinya
Secara historis, ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi juga berpuasa pada hari Asyura sebagai bentuk syukur atas selamatnya Nabi Musa AS dari kejaran Firaun.
Sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Musa sekaligus pembeda (tashil) agar tidak persis sama dengan tradisi kaum Yahudi, Rasulullah SAW bertekad untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram jika beliau masih hidup di tahun berikutnya.
