RAKCER.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Jawa Barat memberikan penjelasan resmi mengenai dinamika cuaca unik yang terjadi selama masa transisi menuju musim kemarau.
Meskipun curah hujan secara umum di wilayah Jawa Barat menunjukkan tren penurunan yang drastis, potensi cuaca ekstrem skala lokal berupa hujan sesaat dan angin kencang ternyata masih mengintai beberapa daerah akibat adanya faktor labilitas atmosfer yang bervariasi.
Kondisi ini sempat menimbulkan pertanyaan di masyarakat mengenai mengapa hujan masih dapat turun secara mendadak saat wilayah hilir sudah mulai terasa terik dan gersang.
Baca Juga:Prakiraan Cuaca Cirebon 25 Juni 2026: Siang Hari Cerah Berawan, Suhu Maksimal Capai 33°C!Harga Bahan Pokok Kota Cirebon Hari Ini 25 Juni 2026, Minyak Goreng dan Daging Sapi Kompak Naik
Faktor Labilitas Atmosfer dan Pertumbuhan Awan Lokal
Pihak BMKG Jawa Barat menjelaskan bahwa fenomena iklim global saat ini memang didominasi oleh indikasi pengurangan curah hujan.
Berdasarkan analisis iklim terintegrasi, Indeks Niño 3.4 tercatat sebesar +0.92 dan didukung oleh Southern Oscillation Index (SOI) yang menyentuh angka -21.9.
Kombinasi dari kedua indikator makro ini mengonfirmasi adanya penetrasi fenomena El Niño yang memicu penurunan suplai hujan harian di sebagian wilayah Indonesia, termasuk koridor Jawa Barat.
Namun, penurunan hujan makro tersebut tidak serta-merta menghilangkan fluktuasi cuaca harian secara total.
Di tingkat regional, suhu muka laut di perairan sekitar Indonesia terpantau masih relatif hangat. Kondisi suhu laut yang hangat ini memicu terjadinya suplai uap air yang konstan ke daratan.
Ketika pasokan uap air tersebut berinteraksi dengan tingkat kelembapan udara harian pada lapisan bawah hingga menengah (850–700 mb) yang masih berkisar antara 30% hingga 95%, terbentuklah sebuah kondisi udara yang tidak stabil atau labil.
BMKG Jabar mengonfirmasi bahwa labilitas atmosfer yang bervariasi dari kategori ringan hingga kuat ini memicu pertumbuhan awan konvektif secara mendadak pada skala lokal, terutama akibat dorongan dari aktifnya gelombang atmosfer jenis Kelvin dan Rossby di atas wilayah Jawa Barat.
Baca Juga:Cek Desil DTKS Kemensos.go.id Lewat HP untuk Validasi Bansos 2026Review Kamera Tecno Camon Slim: Uji Sensor Sony LYT-600 50 MP dan Performa OIS
Peta Dampak Labilitas dan Wilayah Potensi Hujan
Akibat adanya sifat atmosfer yang labil ini, pola cuaca sepekan ke depan (25 Juni – 1 Juli 2026) akan terbagi menjadi dua karakteristik yang kontras.
