“Saya tidak tahan lagi. Perampokan adalah penebusan, apartheid adalah kebebasan, aktivisme perdamaian adalah terorisme, pembunuhan adalah pembelaan diri, pembajakan adalah legalitas, warga Palestina adalah warga Yordania, aneksasi adalah perdamaian, perdamaian – kontradiksi tidak ada habisnya,” Yatom tulisnya dalam catatan bunuh dirinya yang dimuat dalam buku This Daily.
Psikiater sebut kesulitan memahami pemikiran Benjamin Netanyahu
Yatom semakin tertekan karena merasa gagal membujuk Netanyahu untuk mengakui kenyataan, dan ia juga menerima berbagai pukulan ketika mencoba memahami pemikiran Netanyahu, seperti yang disebutkan dalam salah satu judul buku hariannya “The Black Hole of Self-Contradiction.”
Pukulan kedua merupakan kelanjutan dari pukulan sebelumnya, di mana Netanyahu bersumpah bahwa Iran dan Nazi Jerman adalah sama.
Baca Juga:MUI Resmi Keluarkan Fatwa Haram Hukumnya Beli Produk Pro IsraelNCT 127 Umumkan akan Gelar Konser di Jakarta Pada Januari 2024 Mendatang
Terakhir, Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa program energi nuklir Iran adalah “kamar gas terbang” dan semua orang Yahudi akan menghabiskan selamanya di Auschwitz, sebuah kamp konsentrasi yang didirikan oleh Nazi Jerman selama Perang Dunia II.
Yatom mengungkapkan bahwa upayanya untuk menenangkan kegelisahan Netanyahu sangat menguras tenaga dan seringkali gagal.
“Orang-orang Yahudi berada di ambang kehancuran di tangan Goyim yang rasis dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan mereka adalah dengan melakukan kematian terakhir,” tambah catatan itu.
Pengakuan Yatom lainnya dalam buku hariannya memberikan gambaran sekilas tentang tindakan Natanyahu, sekaligus mengungkap tantangan serius yang dihadapi Yatom.
“Bibi (sapaan akrab Netanyahu) datang jam 3 untuk sesi sore. Pada jam 4 dia menolak pulang dan mengatakan bahwa rumah saya sebenarnya miliknya. Lalu dia mengunciku di ruang bawah tanah semalaman, sementara dia menjamu teman-temannya dalam kemewahan di lantai atas. Ketika saya mencoba melarikan diri, dia menyebut saya teroris dan kemudian mengikat saya”
“Saya minta ampun, tapi katanya tidak bisa memberikan jaminan kepada seseorang, bahkan dia tidak ada,” tulis Yatom, pada Senin, 8 Maret.
Demikian ulasan mengenai Psikiater PM Benjamin Netanyahu yang ditemukan tewas dengan luka tembakan.
Simak berita dan artikel menarik lainnya di google news. (*)
