RAKCER.ID, KUNINGAN – Desa Wisata Paniis mulai dilirik sebagai model pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Kabupaten Kuningan. Desa Paniis dinilai memiliki modal kuat, dari potensi alam, warga dan kearifan lokal, bahkan termasuk Zona Penyangga Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai.
Hasil riset lapangan belasan mahasiswa Program Magister Pariwisata, dari Institut Pariwisata Trisakti Jakarta pada 14 dan 15 Mei 2026, menemukan banyak peluang yang bisa dilakukan masyarakat wisata, sekaligus mendalami sejumlah hambatan untuk dijadikan bahan pertimbangan para pembuat kebijakan. Dari hasil kajian, perlu dukungan inovasi, supaya wisatawan tinggal lebih lama di Paniis, termasuk menyediakan homestay, sebuah peluang mendongkrak perekonomian jika hal ini terjadi.
Kegiatan Field Research Batch 35 Program Magister Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti selama 2 hari ini, mengunjungi 3 titik obyek penelitian, yakni Terminal Wisata Paniis, kawasan Mata Air Cipaniis, serta unit usaha ayam petelur milik BUMDes. Selain observasi lapangan, mahasiswa juga melakukan wawancara dengan perangkat desa dan masyarakat untuk memetakan potensi ekonomi, sosial, hingga ekologi desa.
Baca Juga:Putra Putri Adipati Kuningan 2026, Salsabila Aisya Tembus 20 Besar, Bawa Misi Kesehatan Bagi Generasi MudaUNIKU Hadirkan KPK di Kuningan, Kuliah Umum Diminati Mahasiswa Hingga Eksekutif Pemkab
Wakil Rektor III Bidang Kerja Sama dan Alumni Institut Pariwisata Trisakti, Dr. Novita Widyastuti menilai Paniis memiliki modal kuat untuk berkembang sebagai desa wisata berkelanjutan. Menurutnya, kekuatan desa tidak hanya terletak pada alam, tetapi juga budaya, kesenian dan produk UMKM masyarakat.
“Paniis punya banyak potensi. Ada budaya, alam, kesenian dan produk UMKM. Tinggal bagaimana kolaborasi masyarakat diperkuat dan atraksi wisatanya dipoles supaya wisatawan bukan hanya datang main air lalu pulang, tapi menikmati budaya dan tinggal lebih lama,” ujarnya, usai penutupan kegiatan di Balai Desa Paniis, Jumat (15/05).
Ia menyoroti fenomena “wisata desa” yang masih dominan di banyak daerah, termasuk Paniis. Menurutnya, desa wisata ideal bukan hanya menjadi tempat singgah, tetapi mampu menciptakan aktivitas yang membuat wisatawan menginap dan membelanjakan uangnya di desa.
Dalam hasil kajian sementara, mahasiswa juga menawarkan sejumlah konsep sederhana namun dinilai realistis diterapkan. Salah satunya optimalisasi aliran air di kawasan Cipaniis sebagai sumber energi mikrohidro untuk mendukung penerangan lokal dan atraksi wisata malam. Tak hanya obyek wisata Mata Air yang dikelola PDAU, ada aliran air jernih ke arah hilir sepanjang 1,5 kilometer dengan pemandangan pesawahan, yang berpotensi menambah “atraksi pariwisata” seperti wahana tubing.
